PALEMBANG, 2 Maret 2026 – Sebuah temuan mengejutkan mencuat dari deretan papan bunga apresiasi yang membanjiri kantor Kejaksaan Negeri (Kejari) Banyuasin. Lembaga Pemantau Kinerja Pemerintah Indonesia (LPKPI) mengungkap adanya dugaan pencatutan identitas fiktif yang mengatasnamakan SMPN 4 Talang Kelapa, menyusul munculnya nama Merlyn Arianza, S.Pd. yang tidak dikenal dalam sistem data negara.
Papan bunga tersebut menarik perhatian publik karena secara gamblang mencantumkan nama Merlyn Arianza, S.Pd. sebagai perwakilan sekolah, padahal SMPN 4 Talang Kelapa secara resmi dipimpin oleh Fauziah, S.Pd., M.Si.
Penelusuran Digital: Sosok 'Siluman' di Balik Papan Bunga
Hasil penelusuran mendalam melalui sistem Data Pokok Pendidikan (Dapodik)—basis data tunggal tenaga pendidik di Indonesia—menunjukkan hasil nihil. Nama Merlyn Arianza, S.Pd. sama sekali tidak terdata sebagai guru, staf, maupun tenaga honorer di SMPN 4 Talang Kelapa.
Ketidaksinkronan ini memicu kecurigaan adanya "sosok siluman" yang sengaja dimunculkan untuk menghindari transparansi tanggung jawab administratif maupun finansial terkait pengiriman karangan bunga tersebut.
LPKPI: "Upaya Cuci Tangan yang Terencana"
Aktivis LPKPI, Musfiran, menilai penggunaan nama yang tidak terdaftar di Dapodik ini sebagai indikasi kuat adanya upaya "cuci tangan" di lingkungan sekolah.
"Sangat aneh dan janggal. Jika niatnya memberikan apresiasi sebagai institusi pendidikan, mengapa tidak menggunakan nama Kepala Sekolah yang sah? Mengapa harus memunculkan nama yang tidak ada dalam radar Dapodik? Kami menduga ini adalah strategi untuk mengaburkan tanggung jawab jika kelak ada audit terkait sumber iuran atau dana pengadaan papan bunga ini," ujar Musfiran.
Beliau juga menekankan ironi yang terjadi di lapangan. "Sangat ironis, nama siluman muncul untuk merayakan penangkapan oknum pemeras (LSM), sementara di internal sekolah sendiri diduga masih ada praktik manipulasi stempel dan pengadaan yang dianggap lumrah. Prestasi penangkapan oknum LSM jangan sampai dijadikan tameng untuk melindungi oknum sekolah yang melakukan korupsi sistematis," tegasnya.
Tuntutan Klarifikasi Publik
LSM LPKPI secara resmi mendesak Kepala Dinas Pendidikan Banyuasin dan Kepala SMPN 4 Talang Kelapa untuk segera memberikan klarifikasi:
Siapa sebenarnya sosok Merlyn Arianza dan atas dasar apa nama tersebut mewakili institusi pendidikan negeri.
Mengapa institusi pendidikan menggunakan identitas yang tidak sinkron dengan data resmi negara (Dapodik).
Transparansi mengenai sumber pendanaan aksi papan bunga tersebut agar tidak terjadi penyalahgunaan dana pendidikan.
Masyarakat kini menunggu langkah tegas dari pemerintah daerah untuk memastikan bahwa institusi pendidikan tetap bersih dari praktik manipulasi identitas demi kepentingan tertentu. (In)

.webp)

