PALEMBANG – Suasana SMA Negeri 3 (SMAN 3) Palembang tampak berbeda selama tiga hari terakhir. Alunan ayat suci dan antusiasme ratusan siswa mewarnai gedung sekolah dalam rangkaian Pesantren Ramadan yang digelar mulai 4 hingga 6 Maret 2026. Bukan sekadar rutinitas tahunan, kegiatan ini menjadi ajang bagi siswa untuk "turun ke jalan" dan berbagi kebahagiaan dengan sesama.
Menanamkan "Kesalehan Sosial" di Bulan Suci
Kepala SMAN 3 Palembang, Drs. Sugiyono, M.M., menegaskan bahwa sekolah ingin melampaui pembelajaran teori di kelas. Melalui Pesantren Ramadan, para siswa diajak langsung mengelola zakat, infak, dan sedekah yang kemudian disalurkan kepada mereka yang membutuhkan.
"Kami ingin siswa tidak hanya pintar secara akademis, tapi juga punya hati. Hari ini kita tutup dengan mengundang anak-anak panti asuhan ke sekolah untuk berbuka bersama dan menerima santunan. Ini adalah cara kami menanamkan karakter empati," ujar Sugiyono, Jumat (6/3).
Kolaborasi Rohis dan Semangat Kompetisi
Di bawah bimbingan Yunika Astra, S.Pd.I, selaku Pembina Rohis, acara dikemas dengan gaya yang menarik bagi generasi muda. Selain menghadirkan penceramah berkompeten seperti Ustaz Fahmi dan Ustaz Ismail, sekolah juga menggelar berbagai kompetisi untuk menggali potensi terpendam siswa.
Adu Bakat Islami: Lomba Azan, ceramah, hingga kaligrafi menjadi wadah ekspresi seni dan religi.
Wawasan Keagamaan: Lomba "Ranking Satu" memacu adrenalin siswa dalam menguji pemahaman agama mereka secara interaktif.
Aksi Nyata: Pembagian takjil di jalanan untuk masyarakat kurang mampu dan pengguna jalan.
Chaila Salsabila, siswi kelas XI.6 sekaligus perwakilan Rohis, menuturkan bahwa pembagian lokasi kajian antara siswa laki-laki (Aula) dan perempuan (Musala) membuat penyampaian materi menjadi lebih spesifik dan tepat sasaran.
Pesan Digital: "Jadilah Kreator Kebaikan"
Dalam arahannya, Drs. Sugiyono juga menyisipkan pesan penting mengenai penggunaan media sosial. Di era digital ini, ia meminta siswa SMAN 3 Palembang untuk menjadi pelopor konten positif.
"Gunakan media sosial untuk mempererat silaturahmi dan berbagi informasi manfaat. Buatlah konten edukatif yang menunjukkan kreativitas kalian sebagai siswa yang berakhlak," tambahnya.
Menutup Ramadan dengan Senyuman
Acara ditutup dengan penuh haru saat puluhan anak panti asuhan duduk melingkar bersama siswa dan guru untuk menikmati hidangan buka puasa. Selain bantuan sembako, keceriaan terpancar saat paket santunan diserahkan secara simbolis.
Yunika Astra berharap, pengalaman selama tiga hari ini membekas di hati para siswa. "Harapan kami, mereka pulang dari sini menjadi pribadi yang lebih saleh dan salehah, serta memiliki kualitas ibadah yang lebih kuat dari sebelumnya," pungkasnya. (Indra)

.webp)


