INFO NASIONAL
🚦 Lalu Lintas Palembang: ...
🌤 Cuaca: ...
🌫 Kualitas Udara: ...
🕌 Maghrib: ...
Update: --:--

Sentil Manuver Baliho PGRI Sumsel, Pengamat Politik: Ini Organisasi Guru, Bukan Partai Politik!

 


PALEMBANG, 13 Juli 2026 – Pemasangan baliho berukuran besar atas nama Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) di sejumlah ruas jalan utama Kota Palembang menuai sorotan tajam dan kritik pedas dari berbagai pihak. Baliho yang mencantumkan nama Prof. Dr. H. Bukman Lian, M.M., M.Si. sebagai Ketua PGRI Sumatera Selatan dan Dr. H. Ahmad Zulinto, S.Pd., M.M. sebagai Ketua PGRI Kota Palembang tersebut dinilai sarat kepentingan politik praktis di tengah belum tuntasnya kemelut internal organisasi.

Meskipun baliho-baliho tersebut dibungkus dengan narasi sosialisasi regulasi formal—yakni Permendikdasmen Nomor 4 Tahun 2026—langkah ini dipandang publik sebagai bentuk pencitraan sepihak untuk melegitimasi kekuasaan di masa konflik internal yang berkepanjangan.

Pengamat Sosial Politik Sumatera Selatan, Bagindo Togar, angkat bicara dan menyindir keras aksi pamer baliho tersebut. Menurut alumnus FISIP Universitas Sriwijaya tersebut, kemunculan baliho secara masif ini justru merefleksikan adanya kepanikan yang mendalam dari kubu Bukman Lian dalam mempertahankan eksistensinya.

 “Seharusnya mereka fokus menenangkan situasi dan membenahi keretakan organisasi, bukan justru mengeluarkan instruksi resmi yang meminta seluruh Ketua PGRI se-Sumsel membuat dan memasang baliho secara serentak. Langkah ini justru berpotensi memicu suasana yang semakin memanas dan memperlebar konflik,” tegas Bagindo saat diwawancarai media.

Lebih lanjut, Bagindo menyoroti bukti konkret adanya mobilisasi organisasi melalui surat instruksi bernomor 184/UM/SUS/XXIII/2026. Surat tersebut secara eksplisit memerintahkan seluruh Ketua PGRI tingkat kabupaten/kota di Provinsi Sumatera Selatan untuk membiayai, membuat, dan memasang baliho dengan desain atribut baku yang telah ditentukan oleh kubu tersebut.

“Publik sekarang sudah cerdas dan tidak bisa dibohongi dengan kedok sosialisasi aturan. Ada agenda apa sebenarnya di balik pemaksaan pemasangan baliho ini? Persoalan dualisme atau konflik di tubuh PGRI sendiri sampai hari ini terbukti belum selesai. Surat instruksi itu justru menjadi pengakuan tidak langsung bahwa mereka sedang cemas,” tambahnya.

Bagindo menegaskan bahwa konflik internal di organisasi profesi pendidik sangat tidak pantas dipertontonkan secara vulgar di ruang publik melalui perang baliho. Sebagai wadah yang menaungi para guru, PGRI memiliki beban moral untuk selalu mengedepankan ruang dialog yang sejuk, saling mengayomi, serta menjadi teladan bagi masyarakat luas, bukan meniru syahwat politik praktis.

“Ini organisasi guru, bukan partai politik! Seharusnya mereka itu saling mengayomi, saling mendidik, dan memberi contoh yang baik kepada publik. Guru itu digugu dan ditiru (dipercaya dan dicontoh). Apa yang mau ditiru oleh para murid dan masyarakat kalau yang ditampilkan para tokohnya justru manuver-manuver ambisius seperti ini?” pungkas Bagindo dengan nada retoris.

Hingga siaran pers ini diterbitkan, gelombang pemasangan baliho massal tersebut terus berjalan di berbagai daerah di Sumatera Selatan, sementara desakan dari para anggota agar pengurus fokus pada rekonsiliasi internal alih-alih menghamburkan anggaran untuk baliho kian menguat. (Red)

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Baca juga

TEKNO

Ad 2

Hubungi Redaksi
Klik di sini untuk Iklan Anda
Hubungi Redaksi
Klik di sini untuk Iklan Anda