PALEMBANG, 2 Maret 2026 – SMA Negeri 13 Palembang melakukan terobosan dalam pembinaan karakter religius siswa di bulan suci Ramadan 1447 H. Melalui program bertajuk "Kajian Ramadan", sekolah ini bertransformasi dari format pesantren kilat konvensional menjadi pendalaman materi agama yang lebih praktis dan intensif bagi seluruh peserta didik.
Kepala SMAN 13 Palembang, H. Ridwan Nawawi, S.Ag., M.Si., menyatakan bahwa perubahan ini bertujuan untuk menjawab kebutuhan siswa dalam memahami tata cara ibadah secara benar dan mendalam, bukan sekadar teori di dalam kelas.
> "Kajian Ramadan ini adalah peningkatan dari program sebelumnya. Fokus kami adalah membekali siswa dengan pengalaman ibadah yang nyata, sehingga mereka siap menjalankan perannya sebagai makhluk beragama di tengah masyarakat," ujar Ridwan saat ditemui di sela kegiatan, Senin (2/3/2026).
Kurikulum Praktis Berbasis Jenjang
Program ini dirancang secara sistematis sesuai dengan tingkat kebutuhan siswa:
* Kelas 10 & 11 (Durasi 2 Hari): Fokus pada materi Thaharah (bersuci/wudu) serta praktik salat yang sempurna.
* Kelas 12 (Durasi 1 Hari): Fokus pada materi pengurusan jenazah sebagai bekal pengabdian masyarakat setelah lulus.
Untuk memastikan kualitas pembelajaran, sekolah berkolaborasi dengan pemateri ahli dari berbagai pondok pesantren yang berada di lingkungan sekitar SMA Negeri 13 Palembang.
Inklusivitas dan Kepedulian Sosial
Meskipun berfokus pada Kajian Ramadan, SMAN 13 tetap menjunjung tinggi inklusivitas. Siswa non-Muslim mendapatkan pembinaan khusus di kelas terpisah melalui kerja sama dengan bidang Pembinaan dari Kementerian Agama.
Selain aspek ibadah mahdhah, siswa juga dilatih dalam aspek sosial (Muamalah) melalui:
* Pelatihan Amil Zakat: Siswa dilatih mengelola zakat secara mandiri, mulai dari pengumpulan hingga penyaluran.
* Program Anjangsana: Penyaluran infak dan sedekah kepada panti asuhan di lingkungan sekitar sekolah.
* Distribusi Zakat: Penyaluran bagi warga sekolah yang berhak (Mustahik) serta masyarakat sekitar yang membutuhkan.
Dampak Positif: Masjid yang Meluap
Transformasi ini membuahkan hasil nyata dalam kedisiplinan beribadah. Ridwan mengungkapkan bahwa kesadaran siswa untuk salat berjamaah meningkat drastis. Kapasitas masjid sekolah kini seringkali tidak mencukupi, sehingga pelaksanaan salat Zuhur berjamaah harus dilakukan dalam dua gelombang (dua trip).
"Dulu mungkin harus dipaksa, sekarang mereka sudah jauh lebih sadar tentang kebutuhan untuk beribadah. Ini adalah indikator keberhasilan yang paling membahagiakan bagi pihak sekolah," tambahnya. (Indra)

.webp)

