Tembus Dua Besar Nasional, REI Sumsel Dorong Standardisasi 'Gentengisasi' yang Adaptif bagi Perumahan MBR


PALEMBANG – Dewan Pengurus Daerah Realestat Indonesia (DPD REI) Sumatera Selatan mengukuhkan posisinya sebagai salah satu motor penggerak properti terbaik di tanah air. Saat ini, REI Sumsel sukses bertengger di jajaran dua besar nasional dalam performa pengembangan perumahan, sebuah capaian yang memperkuat optimisme organisasi dalam menyongsong target Program 3 Juta Rumah Nasional pada 2026.

Ketua DPD REI Sumsel, Zewwy Salim, menyatakan bahwa prestasi ini menjadi landasan kuat untuk merealisasikan target 20.000 unit rumah tahun depan. Namun, di tengah ekspansi yang agresif, REI Sumsel kini memberikan perhatian khusus pada aspek kualitas konstruksi melalui standarisasi material yang adaptif, atau yang dikenal dengan istilah "gentengisasi".

Konstruksi Berbasis Risiko Wilayah

Zewwy menekankan bahwa pemilihan material atap tidak boleh hanya sekadar mengikuti tren, melainkan harus kontekstual dengan kondisi geografis.

“Pemilihan material atap harus menyesuaikan kondisi wilayah. Daerah rawan gempa sebaiknya menghindari genteng berat; seng atau metal lebih aman dari sisi beban struktur. Namun secara termal dan kenyamanan, genteng memang lebih unggul dibanding seng,” jelasnya.

Bagi wilayah Palembang dan sekitarnya yang masih didominasi penggunaan atap metal, REI mendorong skema "gentengisasi" yang realistis. Tujuannya adalah memastikan rumah MBR (Masyarakat Berpenghasilan Rendah) memiliki kenyamanan termal yang baik namun tetap mempertimbangkan struktur modal pengembang agar harga jual tidak melambung melampaui daya beli masyarakat.


Tantangan SLIK OJK dan Filter Perbankan

Meskipun performa pengembangan di Sumsel sangat positif, akses pembiayaan tetap menjadi "filter" yang menentukan. Zewwy mengungkapkan bahwa problem utama di lapangan saat ini adalah profil risiko calon debitur yang terganggu oleh pinjaman online (pinjol).

“Untuk MBR, verifikasi SLIK OJK tetap jadi filter utama. Banyak calon debitur terjebak pinjol dan kredit macet, sehingga profil risikonya tinggi dan berujung penolakan bank,” ungkap Zewwy.

Kondisi ini memicu pengetatan analisis kredit oleh pihak perbankan yang secara tidak langsung memperpanjang waktu realisasi KPR. Menanggapi hal tersebut, BM Bank Tabungan Negara (BTN) Palembang, Peggy Pallasthena, menyebutkan pihaknya terus menjalin kolaborasi dengan pengembang untuk memitigasi risiko sejak dini melalui perbaikan kualitas berkas administrasi.

Target Strategis 2026

Dengan dukungan komposisi target yang matang, REI Sumsel optimis dapat menyerap pasar secara maksimal:

  • 17.000 Unit: Segmen MBR (Subsidi)

  • 2.000 Unit: Segmen Menengah

  • 1.000 Unit: Segmen Menengah-Atas & Mewah

Melalui kombinasi performa nasional yang solid dan standarisasi material yang tepat sasaran, REI Sumsel berkomitmen untuk tidak hanya sekadar membangun rumah, tetapi menghadirkan hunian yang aman, nyaman, dan berkelanjutan bagi masyarakat Sumatera Selatan. (Indra)

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Baca juga

TEKNO

Ad 1

Hubungi Redaksi
Klik di sini untuk Iklan Anda

Ad 2

Hubungi Redaksi
Klik di sini untuk Iklan Anda
Hubungi Redaksi
Klik di sini untuk Iklan Anda